Cerita Pendek : Merah Fajar



Merah Fajar

Vinka Berliana

Aruna melempar tasnya diikuti ia memanjat tembok bercat hijau yang ada di hadapannya. Atap audtorium adalah tempat paling indah dan nyaman menurut Aruna di SMA Bangkit, tempat ia memuntut ilmu saat ini. Tempat dimana Aruna bisa menemukan ketenangan sekaligus tempatnya untuk melarikan diri dari semua masalah sekolahnya. Ini ketiga kalinya Aruna merasa dipermalukan oleh guru matematikanya di depan kelas hanya karena Aruna salah memasukan rumus. Tidak hanya itu, gurunya juga mengungkit kembali masalah 2 minggu lalu saat Aruna tidak tahu cara mencari turunan. Dan gurunya pun menganggap Aruna seharusnya belum siap naik ke kelas 2 untuk seukuran sekolah terfavorit. Bukannya Aruna tidak bisa. Aruna hanya benar – benar lupa rumus yang diajarkan minggu lalu. Kemarin ia hanya sempat belajar untuk ulangan sejarah hari ini. Dan hasilnya, seluruh kelas tadi melihatnya dengan aneh. Mungkin aneh, karena siswi bernama Aruna bisa diterima disekolah yang sama dengan mereka.
Dan di sinilah Aruna sekarang. Setelah ia bertahan hingga pelajaran ke-7, Aruna memilih untuk bolos dijam berikutnya dan pergi ke atap auditorium. Persetan dengan sekolahnya yang penuh tata tertib atau guru killer sekalipun. Hari ini ia sudah cukup lelah. Aruna menurunkan celana yang ia tekuk hingga selutut lalu melepas roh abu – abunya. Kemudian memutar musik boxnya dengan lagu sembarang, dan mulai mengikuti ritmenya dengan gerakan-gerakan yang ia tahu. Menari adalah salah satu hal yang Aruna sukai, baik tari tradisional maupun tarian modern ia kuasai. Menari juga tempat Aruna untuk menuangkan isi hatinya.
“Aruna, kamu dipanggil Bu Daryu ke ruang BP tuh.” Kata Luna sambil membawa beberapa jajanan yang tadi ia beli di kantin. Aruna hanya membalas dengan anggukan dan langsung pergi ke ruang BP. “Oke, tadi sudah ada Cantika, Timur, Luna lalu sekarang Aruna.” Kata Bu Daryu setelah Aruna datang ke ruang BP. Bu Daryu menjelaskan tentang PTN dan Prodi yang telah dipilih Aruna beberapa bulan lalu dan tentang nilai Aruna yang kurang untuk ia memilih jurusan arsitektur. Dan  Bu Daryu pun menasehati Aruna untuk memilih prodi lain yang ia minati dan sesuai dengan kemampuannya. Aruna tidak mengiyakan nasehat Bu Daryu tapi tetap berterima kasih kemudian pergi ke tempat favoritnya. Atap auditorium.
Ternyata Luna sudah lebih dulu berada di atap auditorium sambil membawa 2 cup milkshake. “Ngomong apa aja sih sama Bu Daryu ? Lama banget.” Tanyanya saat Aruna sudah duduk di sampingnya. Aruna hanya menjawab dengan senyuman yang mengisyaratkan bahwa ada yang sedang ia pikirkan. Pastinya tentang alasan tidak masuk akal (menurutnya) dari guru BP nya tadi yang menyuruhnya untuk memilih prodi lain. Baginya semua tak berguna jika ia melakukan sesuatu yang tak ia inginkan. Dan satu-satunya yang ia suka selain menari adalah menggambar. Dan menjadi arsitek adalah impian Aruna yang tak pernah ia ubah. Aruna berbincang dengan Luna cukup lama. Luna juga memiliki masalah yang sama dengannya. Dan Luna yang tidak lebih berani dari Aruna mengatakan bahwa setelah lulus SMA ia ingin melarikan diri saja ke luar negeri. Luna sudah bicara dengan orang tuanya, dan mereka menyutujui pilihan Luna untuk belajar melukis di Prancis. Walau awalnya Luna ragu apakah ia dapat mewujudkan cita-citanya itu. Aruna meyakinkan Luna dengan pilihan yang ia ambil adalah tepat dan pasti terwujud dengan kemampuan yang Luna miliki serta kedua orang tuanya yang sangat mendukungnya. Ya, Aruna sangat mengetahui bakat melukis Luna yang sangat luar biasa dan percaya bisa jadi pelukis terkenal. Bagi keluarga Luna yang bak memiliki segalanya, itu hal yang mudah untuk diwujudkan. Malam itu Aruna memikirkan semuanya. Memantapkan pilihan dan semua kemungkinan maupun resiko yang akan ia dapat. Aruna telah menetapkan hatinya.
Pagi ini Aruna tidak langsung ke kelas seperti biasa. Ia menujui gedung utama untuk menyerahkan berkas kepindahannya dari SMA Bangkit. Aruna sudah tak bisa lagi meneruskan sekolahnya di sana. Toh masuk ke SMA bangkit adalah keinginan ibunya. Dan Aruna sudah mewujudkan keinginan ibunya itu walau ia tak menyelesaikan SMA nya di sana. Ketika Aruna turun dari tangga ruang kepala sekolah setelah menyelesaikan semuanya, Aruna berpapasan dengan Fajar, kakak kelasnya yang juga menjadi DA yang terkenal ramah dan tegas. Sekaligus cinta pertama Aruna. “A...Aruna kan?” sapa Fajar ketika melihat Aruna yang berjalan berlawanan arah. Fajar cukup mengenal Aruna walau tidak dekat. Fajar adalah salah satu DA yang bertugas menjaga sangga Aruna saat  malam terakhir kemah akhir tahun. “Iya kak Fajar.” Jawab Aruna tentu dengan senyum khasnya yang hanya ia perlihatkan kepada orang – orang tertentu. “Kenapa nggak masuk kelas?” tanya Fajar  sambil melihat tangan Aruna yang memegang beberapa berkas. “Habis ketemu sama kepala sekolah Kak.” Jawab Aruna seperti enggan bercerita lebih kemudian melanjutkan langkahnya. Aruna juga merasa sedih karena kisah cinta pertamanya yang hanya berakhir seperti ini. Tapi ketika ia menengok kembali kak Fajar yang juga meneruskan langkahnya Aruna teringat dengan pesan dari Fajar saat Aruna bersama sangganya dan Kak Fajar berkumpul bersama dan membicarakan tentang Indonesia. “Mencitai Indonesia tidak selalu harus ditunjukan dengan prestasi pada nilai-nilai yang ada di rapotmu saja. Kamu bisa mencintai dan membuat bangga Indonesia dengan apapun yang kamu punya. Dengan caramu sendiri.” Mengingat kata-kata Fajar tadi membuat sebuah senyuman merekah di wajah Aruna. Setidaknya Aruna dapat melakukan apa yang kak Fajar pesan padanya walau ia tidak tahu bagaimana perasaan Aruna kepadanya. Dan setiap langkah Aruna menjadi semakin mantap.
“Hallo Aruna. Senang bisa bertemu denganmu.” Seorang wanita berdarah Amerika-Jepang menyapa Aruna yang baru saja datang. Terlihat wanita itu sudah lancar bebahasa Indonesia. “Nice to meet you too Mom.” Sapa balik Aruna dengan senyum lebar. Wanita dihadapannya ini adalah Ibu Sponsor Aruna dari sebuah organisasi yang membiayai anak – anak berbakat. Dan sangat beruntung karena seorang sponsor biasanya sangat jarang menemui anak asuhnya. Biasanya mereka hanya berkirim surat saja. “Selamat atas kelulusanmu Aruna. Saya sangat bangga dengan pilihanmu setelah masa sulitmu.” Aruna baru saja lulus dari SMK di Surakarta dengan mengambil jurusan seni tari. Dan keinginan Mrs. Gean bertemu dengan Aruna adalah untuk membahas pendidikan Aruna selanjutnya. Sponsor Aruna ini telah jatuh cinta kepada semua bakat milik Aruna. Dan ia berjanji akan membiayai Aruna hingga impiannya terwujud. Mrs. Gean sudah memilih beberapa universitas terbaik di Indonesia. Mrs. Gean mengambil Universitas ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta sebagai pilihan untuk Aruna. Mrs. Gean lebih mengarahkan Aruna ke ISI Yogyakarta karena tari Hip-Hop nya yang sangat bagus dan ia sudah memiliki koneksi dengan temannya di Amerika agar Aruna bisa bergabung dengan beberapa artis yang membutuhkan penari di sana. “Mom,” Aruna masih tersenyum ketika Mrs. Gean selesai menerangkan. “Aruna akan mengambil tari tradisi.” Tambah Aruna. Terlihat Mrs. Gean tertegun dengan keputusan Aruna yang terdengar sangat mantap. Sebelum Mrs. Gean bertanya Aruna lebih dahulu mengingatkan Mrs. Gean tentang salah satu impian yang ia miliki adalah berkeliling dunia. Aruna ingin berkeliling dunia bukan hanya untuk sekedar menari tetapi juga ingin memperkenalkan Indonesia dengan tarinanya. Mendengar itu Mrs. Gean sangat terharu. Sekali lagi ia telah jatuh cinta dengan anaknya ini.
Aruna baru saja tiba di Indonesia setelah hampir 3 minggu berpartisipasi dalam festival budaya Asia di Thailand. Sebenarnya Aruna masih ingin menghabiskan beberapa hari untuk berlibur tetapi malam setelah festival itu berakhir, Aruna mendapat telepon dari temannya yang menawarkan proyek sebuah teater tari musikal yang berkisah tentang Kartini pada bulan April mendatang. Ditambah lagi teater tari musikal itu diadakan di kota Surakarta, kota dimana hampir seluruh impiannya ia bangun di kota itu, juga kota dimana cinta pertamanya tinggal. Sebelum Aruna berangkat ke Jepang untuk pekerjaan pertamanya di luar negeri, Luna sempat meneleponnya dan mereka berbincang cukup lama. Aruna mendapat kabar mengejutkan tentang Fajar bahwa kakak kelasnya yang terkenal sangat cerdas ini gagal diterima di fakultas kedokteran UGM. Yang lebih mengejutkan lagi Fajar justru melanjutkan kuliahnya di jurusan Sejarah. Dan dikabarkan lagi kalau Fajar sudah pindah ke kota Surakarta. Harapan Aruna mungkin tidak masuk akal. Tapi Aruna sangat berharap bisa bertemu dengan Fajar.
Hari ini adalah hari pertama latian dan persiapan untuk teater tari musikal Kartini. Aruna begitu semangat karena akhirnya ia bisa kembali bekerja di Indonesia. Selama ia berkarir, Aruna lebih banyak bekerja sama dengan orang asing (luar negeri) sehingga ia justru tidak begitu mempunyai banyak teman di Indonesia. Yang membuat Aruna semakin senang adalah ketika harapannya benar – benar terkabul. Seorang yang selama ini ingin ia temui sekarang ada di depannya. Fajar ternyata menjadi wakil dari jurusan sejarah UGM sebagai penasihat sejarah pada teater tari musikal ini. Antara senang dan bingung, Aruna tidak tahu harus menyapa lebih dahulu atau tidak. Ia merasa canggung karena selama di SMA Bangkit ia hanya mengagumi Fajar dari jauh karena Aruna hanyalah teman dari adik sepupu Fajar. Sampai latihan pertama berakhir pun Aruna masih bingung sikap apa yang harus ia ambil, karena ia juga bukan termasuk kategori orang yang supel. Selesai Aruna mengganti pakaian yang telah basah karena keringat sehabis mengajarkan koreografi kepada para pemain tiba – tiba seseorang menyebut namanya. “Aruna kan? Hai, lama nggak ketemu. Nggak lupa sama aku kan? Gimana kabar kamu?” Fajar menghampiri Aruna dan menyapanya sambil menawarkan jabatan tangan. Tak lupa dengan senyum cerianya, salah satu yang Aruna sukai dari Fajar. “Ah Hai Kak Fajar. Iya aku baik. Kak Fajar gimana?” Aruna sedikit kebingungan saat Fajar menyapanya dan akhirnya hanya jawaban canggung yang keluar dari mulutnya. Aruna benar – benar tak menyangka Fajar akan menyapa lebih dulu. Tapi satu hal yang Aruna rasakan setelahnya, ia benar – benar bahagia.
Awalnya Aruna masih canggung untuk berbicara dengan Fajar. Namun karena sikap Fajar yang ramah dan lebih aktif mengajak bicara Aruna, ia akhirnya merasa nyaman. Sambil menunggu hujan deras yang disertai angin, Fajar dan Aruna menghabiskan waktu di kafe dekat studio teater. Mereka saling berbagi kisah masing – masing layaknya teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Sekarang Aruna mengerti mengapa Fajar memilih untuk melanjutkan kuliahnya di jurusan sejarah. Menjadi dokter ternyata adalah keinginan ayahnya. Sejak dulu Fajar lebih tertarik dengan sejarah. Namun Fajar tetap mengabulkan keinginan ayahnya. Fajar sudah berkerja keras untuk itu, dan ketika ia mengabarkan pada ayahnya bahwa ia  tidak diterima di jurusan kedokteran, akhirnya ayah Fajar pun memberi ijin Fajar untuk memilih jurusan yang ia inginkan. “Lalu apa yang membuatmu berani sampai meninggalkan SMA Bangkit di kelas 2 dan menjadi penari?” setelah bercerita panjang, gantian Fajar yang bertanya. Pertanyaan yang dari dulu ingin ia tanyakan pada Aruna saat mendengar Aruna tiba – tiba pindah sekolah. Aruna tersenyum malu mengingat kejadian itu. Ia diam sejenak memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Fajar. “Apa Kak Fajar ingat pesan kakak untuk sanggaku saat  kemah akhir tahun?”
Aruna dan Fajar beserta semua yang terlibat untuk teater tari musikal Kartini. Karena acara ini adalah acara besar, semua mulai dari pemain hingga penari semangat berlatih untuk memberikan penampilan yang terbaik pada tanggal 21 April nanti. Walau terkadang ada beberapa bagian yang harus diperbaiki dan diubah karena tidak sesuai dengan sejarah mereka tidak lelah untuk mengulang tiap bagian demi bagian. Tidak hanya itu, masalah dari luar pun sempat menghambat persiapan teater tari musikal ini. Dimulai dari bocornya naskah hingga perijinan penyelenggaraan acara ini. Namun akhirnya semua dapat diatasi. Hingga tanggal 21 April pun tiba, semua usaha mereka pun akhirnya terbayarkan dengan tiket yang terjual habis dan seluruh kursi penonton benar – benar terisi penuh. Banyak pula wartawan yang memburu berita tentang teater tari musikal Kartini ini bahkan beberapa diantaranya berasal dari negara tetangga. Aruna yang menjadi koreografer dari teater tari musikal itu juga tak kalah diburu oleh beberapa majalah untuk diwawancarinya. Dan disetiap wawancara, Aruna selalu mengatakan hal yang sama. Bahwa ia menari karena kecintaannya kepada Indonesia.
Pagi hari ini Aruna menghabiskan waktu untuk bersantai di balkon apartemennya. Selama ia berkarir, teater tari musikal Kartini kemarinlah yang paling membuatnya puas. Aruna kembali teringat dengan setiap perjalanan hidupnya dari saat ia merasa tak bisa melakukan apapun hingga sampai saat ini. Juga dari awal pertemuannya dengan Fajar hingga mereka dipertemukan kembali. Tanpa sadar Aruna tersenyum karena memikirkan Fajar. Kegiatan Aruna membuka halaman majalah terhenti ketika ia menemukan wajah Fajar di halaman itu. Aruna terkejut ketika membaca artikel tentang huruf “A” sebagai keberuntungan Fajar, dan disampingnya terlihat foto Fajar menggenggam sebuah liontin berbentuk A yang terlihat mirip dengan miliknya yang hilang. “Aruna!” tiba – tiba Fajar sudah berada di balkon apartemen sebelah Aruna dan langsung melompat ke apartemen Aruna. Karena Aruna tidak kunjung membuka pintu apartemennya, Fajar akhirnya meminta ijin penghuni apartemen sebelah Aruna untuk melewati balkonnya agar ia bisa segera menemui Aruna karena ada yang ingin segera Fajar sampaikan sebelum Aruna pergi menemuai Luna ke Prancis. “Ini punyamu kan?” Fajar memberikan liontin yang persis dengan yang ada di majalah. Ternyata dugaan Aruna benar, liontin itu memang miliknya. Tapi itu juga menimbulkan pertanyaan bagi Aruna. “Aku menjadikan huruf A sebagai huruf keberuntungan karena A adalah inisial dari cinta pertamaku.” Jelas fajar yang melihat Aruna membaca artikel tentang dirinya. “Cinta pertama kak Fajar berinisial A? A untuk..” Kata – kata Aruna terhenti ketika ia menyadari kemana arah pembicaraan tersebut. Ditambah ketika Fajar menggenggam tangan Aruna sambil memperlihatkan senyum khasnya. “Semua orang punya cinta pertama Aruna. Termasuk aku. Apa kamu tahu arti dari Aruna?” Aruna ikut tersenyum dan mulai memahami apa yang ingin disampaikan Fajar. Aruna sangat tahu arti dari namanya “Aruna adalah kusir dari Dewa Surya. Aruna adalah yang bersinar kemerahan di pagi hari.” Jawabnya dengan mantap. “Jadi, maukah kamu Aruna, menjadi yang bersinar kemerahan saat Fajar tiba?” tanya Fajar ketika matahari mulai menampakan diri dan sinar kemerahnya menyinari mereka. Aruna tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya mendengar pengakuan dari Fajar dan langsung memeluknya. “Ya, aku mau.” 
Kami bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia dengan keanekaragaman budaya dan sejarahnya yang begitu luar biasa. Sehingga kami memiliki banyak cara untuk mengungkapkan rasa cinta kami kepada Indonesia. Dan saya Aruna, memilih tari sebagai wadah untuk mengungkapkan rasa syukur saya bisa lahir di negara dengan budayanya yang begitu indah. Saya mencintai Indonesia dengan menjaga budaya-budayanya agar tetap lestari khususnya dalam kesenian tari. Dan saya selalu menari dengan membawa nama Indonesia.

~END~



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »